Beranda / Kota Tangerang / Hujan Deras, Air Lindi TPA Rawa Kucing Rendam Kebun dan Permukiman Warga

Hujan Deras, Air Lindi TPA Rawa Kucing Rendam Kebun dan Permukiman Warga

TangerangKini.com, Kota Tangerang — Persoalan air lindi di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Rawa Kucing kembali mencuat. Saat hujan deras, air limbah beracun meluap, merendam perkebunan warga hingga masuk ke permukiman, tanpa penanganan serius meski terjadi bertahun tahun.

Hujan deras yang disertai angin kencang menyebabkan air limbah dari arah TPA meluap ke kebun warga dan Perumahan KORPRI RT 01 RW 05, Kelurahan Kedaung Wetan, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang.Peristiwa terbaru terjadi pada Jumat, (23/01/2026).

Kondisi ini berdampak langsung terhadap hasil pertanian warga. Salah satunya dialami Mimi, petani yang mengelola kebun di sekitar area TPA Rawa Kucing.

“Semalam hujan gede jam satu, hujan angin juga. Air limbah muncak ke sini, penuh,” ujar Mimi.

Setiap kali hujan dengan intensitas tinggi, air limbah tersebut hampir selalu meluap. Air yang masuk ke kebun memiliki suhu panas dan menyebabkan tanaman tidak bisa tumbuh dengan baik.

“Kalau masuk ke kebonan mah panas, nggak jadi tanamannya. Jadi gagal panen, makanya dibuang,” ungkapnya.

Menurutnya, air limbah tersebut berasal dari area pembuangan sampah yang lokasinya tidak jauh dari lahannya. Saat hujan tidak turun, aliran air limbah tetap ada, namun volumenya relatif kecil dan tidak sampai meluap.

“Kalau nggak hujan mah ada sedikit, tapi mengalirnya nggak penuh. Muncaknya karena kebanyakan hujan,” katanya.

Selama kurang lebih tiga tahun mengelola kebun di lokasi tersebut, Ibu Mimi mengaku belum pernah ada petugas dari pengelola TPA yang melakukan pemantauan langsung ke area perkebunan warga.

“Nggak pernah ada yang kontrol ke sini. Orang TPA-nya juga nggak keliling,” tuturnya.

Meski mengalami kerugian akibat gagal panen, hingga kini ia mengaku belum pernah melaporkan kondisi tersebut kepada pemerintah maupun instansi terkait.

Baca Juga:  Ketum PWI Pusat: Usulan Kepala Daerah Penerima Pin Emas di HPN 2025 Masih Terbuka

Keluhan serupa juga disampaikan warga Perumahan KORPRI, Mohamad Gilang Ramadhan. Ia mengatakan air lindi kini sudah masuk ke wilayah permukiman.

“Kondisi saat ini khususnya di Perumahan KORPRI, air lindi itu sudah masuk ke lingkungan kita. Seperti yang terlihat di belakang, air sudah menggenang,” ujarnya.

Menurutnya, air lindi tidak meluap setiap hari. Namun, saat hujan dengan intensitas tinggi, debit air dari pembuangan sampah meningkat dan menyebabkan luapan.

“Kalau hujan besar, volume air meningkat. Air dari pembuangan sampah ditambah air hujan akhirnya meluap,” jelasnya.

Dampak yang paling dirasakan warga saat ini adalah bau menyengat dan meningkatnya jumlah lalat di lingkungan permukiman.

“Dampaknya bau, terus juga banyak lalat,” katanya.

Lebih lanjut, Ia berharap aparat berwenang dan pihak terkait segera memberikan solusi agar air lindi dapat ditangani dengan baik dan tidak menimbulkan masalah lingkungan maupun penyakit bagi warga.

“Harapannya ada solusi terbaik supaya air lindi ini bisa ditangani dan segera hilang dari lingkungan permukiman,” tambahnya.

Sebagai informasi, air lindi merupakan cairan limbah yang dihasilkan dari tumpukan sampah di TPA. Cairan ini terbentuk dari proses pembusukan sampah yang bercampur dengan air hujan. Secara fisik, air lindi umumnya berwarna gelap, berbau menyengat, dan mengandung zat berbahaya.

Jika mengalir ke lahan pertanian, air lindi dapat merusak struktur tanah, menghambat pertumbuhan tanaman, hingga menyebabkan gagal panen. Paparan langsung juga berisiko bagi kesehatan manusia, mulai dari iritasi kulit hingga gangguan kesehatan jangka panjang.

Warga berharap adanya perhatian serius serta pengawasan rutin dari pihak pengelola TPA dan pemerintah daerah agar dampak air lindi tidak terus merugikan petani dan mencemari lingkungan sekitar.

(Qor)

Tag:
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments