TangerangKini.com, Kota Tangerang — Aksi solidaritas mahasiswa yang tergabung dalam Kelompok Cipayung Kota Tangerang digelar di Tugu Adipura, Kamis (09/04/2026).
Sejumlah organisasi yang tergabung dalam Kelompok Cipayung Kota Tangerang turun ke jalan, menyuarakan keprihatinan sekaligus kemarahan atas dugaan kekerasan terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus.

Aksi ini dipicu oleh insiden penyiraman air keras yang menimpa Andrie Yunus. Para mahasiswa menilai peristiwa tersebut bukan sekadar tindak kriminal biasa, melainkan ancaman serius terhadap demokrasi dan kebebasan sipil di Indonesia.
Dengan membawa spanduk dan tuntutan, massa dari berbagai organisasi lintas ideologi seperti GMNI, HMI MPO, HMI DIPO, dan PMII tampak bersatu dalam satu barisan. Mereka menyerukan penghentian segala bentuk kekerasan terhadap aktivis serta mendesak negara hadir untuk melindungi ruang demokrasi.
Koordinator aksi, Elwin Mendrofa, menegaskan bahwa aksi ini merupakan bentuk solidaritas sekaligus duka atas peristiwa yang dialami Andrie Yunus.
“Teman-teman Cipayung Kota Tangerang melakukan aksi solidaritas sebagai bentuk keprihatinan atas tindakan kekerasan terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus, yang kami nilai sebagai bentuk pembungkaman terhadap demokrasi,” ujarnya.
Ia juga menyoroti dugaan keterlibatan aparat intelijen dalam kasus tersebut, serta menilai hingga kini belum ada kejelasan dari pemerintah terkait siapa dalang utama di balik penyerangan.
“Di balik peristiwa ini pasti ada otak intelektualnya. Tapi sampai hari ini belum ada pernyataan resmi dari negara terkait siapa dalang utama penyerangan tersebut. Itu yang kami desak untuk segera diungkap,” tegasnya.
Menurut Elwin, kebebasan berpendapat dan sikap kritis aktivis telah dijamin dalam konstitusi, sehingga segala bentuk kekerasan terhadap aktivis merupakan pelanggaran serius terhadap Undang-Undang Dasar 1945.
Mahasiswa juga mengingatkan agar kasus serupa tidak kembali terulang. Mereka menilai, selama ini penanganan kasus kekerasan terhadap aktivis cenderung hanya menyentuh pelaku lapangan, tanpa pernah mengungkap aktor intelektual di baliknya.
“Sejak 2004 hingga sekarang, yang ditangkap hanya pelaku. Sementara otak intelektualnya tidak pernah dibuka ke publik. Ini yang harus dihentikan,” tambahnya.
Dalam aksi tersebut, mahasiswa turut menyampaikan sejumlah tuntutan, di antaranya menolak segala bentuk militerisme dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi, serta mendesak keadilan dan perlindungan bagi aktivis serta pejuang HAM.
Aksi berlangsung damai tanpa adanya intimidasi atau gangguan. Ke depan, mahasiswa menyatakan akan terus memantau perkembangan penanganan kasus ini. Bahkan, tidak menutup kemungkinan akan menggelar konsolidasi yang lebih besar hingga aksi lanjutan di tingkat nasional jika tuntutan mereka tidak direspons serius oleh pemerintah.
“Harapan kami sederhana, hukum ditegakkan seadil-adilnya dan otak intelektual di balik penyerangan ini segera diumumkan ke publik,” pungkas Elwin. (qor)












