TangerangKini.com, Kota Tangerang – Duka mendalam menyelimuti masyarakat Kota Tangerang atas kepergian Herman atau yang lebih dikenal sebagai Kak Herman Pramuka, sosok yang selama puluhan tahun menjadi ikon kepramukaan di Kota Tangerang.
Rumah sederhana tempat almarhum tinggal bersama para keponakannya di kawasan Jalan TMP Taruna, tepat di depan Taman Makam Pahlawan Kota Tangerang, kini menjadi tempat warga dan sahabat berdatangan untuk mengenang sosok yang dikenal ramah, sederhana, dan penuh dedikasi tersebut.

Keponakan almarhum, Azhar, mengungkapkan bahwa kecintaan Kak Herman terhadap dunia pramuka sudah tumbuh sejak usia muda.
“Pak Herman memang dari kecil sangat cinta dengan pramuka. Kalau orang asli Tangerang pasti kenal beliau. Bahkan beliau dikenal dengan sebutan Herman Pramuka,” ujar Azhar saat ditemui, Senin (08/06/2026).
Menurutnya, selama hampir 40 tahun atau lebih dari separuh hidupnya, Kak Herman mengabdikan diri untuk kegiatan kepramukaan. Dedikasi itu membuat namanya dikenal luas oleh berbagai kalangan, mulai dari masyarakat biasa hingga sejumlah tokoh dan pejabat di Tangerang yang pernah merasakan bimbingan dan keteladanan darinya.
“Beliau benar-benar hidup untuk pramuka. Banyak orang penting di Tangerang yang dulu pernah menjadi murid beliau,” katanya.
Tak hanya aktif dalam kegiatan kepramukaan di Tangerang, Kak Herman juga kerap mengikuti berbagai kegiatan di luar daerah. Ia bahkan sering terlibat dalam kegiatan yang berkaitan dengan TNI dan perjalanan lintas wilayah. Ke mana pun pergi, satu hal yang tak pernah ditinggalkan adalah atribut pramuka yang selalu melekat pada dirinya.
“Beliau sudah ke mana-mana, sampai Cibubur dan keliling Jawa Barat. Ke mana pun pergi, selalu membawa atribut pramuka. Itu memang sudah menjadi bagian dari hidup beliau,” tambahnya.
Kehadiran Kak Herman selama ini begitu melekat di hati masyarakat. Sosoknya dikenal dekat dengan generasi muda dan menjadi inspirasi bagi banyak anggota pramuka di Kota Tangerang.
Atas berbagai bentuk perhatian dan dukungan yang diberikan masyarakat kepada almarhum selama hidupnya, pihak keluarga menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam.
“Saya sebagai keluarga mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas kecintaan dan dukungan masyarakat kepada Pak Herman. Kami sangat bersyukur karena begitu banyak orang baik yang selalu mendukung beliau,” ungkap Azhar.
Di balik ketokohannya, ka Herman dikenal sebagai pribadi yang sederhana. Meski tidak memiliki istri maupun anak, pria yang merupakan anak ketiga dari lima bersaudara itu menghabiskan hari-harinya bersama keluarga besar dan keponakan-keponakannya.
Kak Herman meninggal dunia pada usia 69 tahun. Hingga kini, keluarga masih menantikan kepastian terkait penyebab meninggalnya almarhum. Berdasarkan informasi yang diterima keluarga, terdapat dugaan bahwa Kak Herman menjadi korban tabrak lari di kawasan Jalan Raya Bitung pada Minggu dini hari.
Keluarga berharap pihak yang bertanggung jawab dapat menunjukkan itikad baik dan membantu mengungkap peristiwa tersebut.
“Kalau memang merasa bertanggung jawab, datanglah baik-baik. Kami ingin persoalan ini diselesaikan dengan jelas dan tuntas,” tegasnya.
Bagi masyarakat Tangerang, kepergian Kak Herman bukan sekadar kehilangan seorang pembina pramuka. Ia adalah simbol pengabdian, ketulusan, dan kecintaan terhadap pendidikan karakter generasi muda. Sosok yang selama puluhan tahun mengajarkan nilai kedisiplinan, kebersamaan, dan semangat pengabdian melalui gerakan pramuka.
Kini, Kak Herman telah pergi. Namun jejak pengabdiannya akan tetap hidup dalam ingatan ribuan murid, sahabat, dan masyarakat Tangerang yang pernah mengenalnya. (Qor)






