TangerangKini.com, Kabupaten Tangerang – Organisasi mahasiswa tidak hanya membutuhkan semangat berkegiatan, tetapi juga kemampuan mengelola forum secara demokratis, rasional, dan berintegritas.
Sebagai bagian dari upaya memperkuat kapasitas kader dalam kepemimpinan dan tata kelola organisasi, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) Universitas Cendekia Abditama (UCA) menggelar Training of Trainers (ToT) di aula kampus, Jumat (26/06/2026).

Dalam kegiatan tersebut, Sekretaris Wilayah (Sekwil) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU) Banten, Hizazil Fikri Mujaki, hadir sebagai pemateri dengan membawakan materi mengenai Teknik Sidang Organisasi.
Ia menekankan bahwa sidang organisasi tidak sekadar membahas tata tertib atau prosedur administratif, melainkan menjadi ruang demokrasi yang menjunjung tinggi musyawarah, penghormatan terhadap argumentasi, dan akuntabilitas dalam setiap pengambilan keputusan.
“Forum sidang adalah ruang dialektika. Gagasan dipertemukan, argumentasi diuji, dan keputusan dilahirkan melalui proses yang dapat dipertanggungjawabkan. Kualitas organisasi tidak hanya tercermin dari keputusan yang dihasilkan, tetapi juga dari kualitas proses yang melahirkan keputusan tersebut,” ujarnya.
Ia menilai, tantangan organisasi mahasiswa saat ini bukan hanya persoalan regenerasi kepemimpinan, tetapi juga menjaga budaya diskusi yang sehat di tengah derasnya arus pragmatisme. Ia mengingatkan bahwa organisasi akan kehilangan arah apabila forum tidak lagi menjadi ruang pertukaran gagasan, melainkan sekadar arena legitimasi kepentingan.
Lebih lanjut, ia juga mengaitkan materi teknik sidang dengan filosofi ToT sebagai model kaderisasi yang berorientasi pada keberlanjutan transfer pengetahuan.
Menurutnya, konsep ToT telah lama berkembang sebagai sistem pelatihan berjenjang yang kini banyak diterapkan oleh institusi pendidikan maupun organisasi untuk membangun kapasitas sumber daya manusia secara berkesinambungan.
“Esensi Training of Trainers bukan sekadar mencetak pemateri, melainkan melahirkan kader yang mampu mendidik kader berikutnya. Organisasi yang bertahan bukanlah organisasi yang bergantung pada satu figur, tetapi organisasi yang mampu mereproduksi kepemimpinan, merawat tradisi intelektual, dan memastikan nilai-nilai organisasi terus diwariskan lintas generasi,” jelasnya.
Kegiatan berlangsung secara interaktif melalui penyampaian materi, simulasi persidangan, serta pembahasan berbagai dinamika forum yang kerap dihadapi organisasi mahasiswa. Melalui pendekatan tersebut, peserta dibekali kemampuan mengelola forum secara profesional, objektif, dan berorientasi pada kepentingan organisasi.
Pembekalan ini diharapkan menjadi bekal bagi para kader dalam membangun tradisi organisasi yang demokratis sekaligus melahirkan pemimpin-pemimpin muda yang mampu menjaga kualitas forum dan proses pengambilan keputusan.
“Harapannya, kader-kader yang lahir mampu berpikir kritis, menjaga marwah forum, serta menghadirkan keputusan yang berpihak pada kepentingan bersama,” pungkasnya. (Qor)





