TangerangKini, Kota Tangerang – Kondisi Situ Cangkring di Kecamatan Periuk, Kota Tangerang, kembali menjadi perhatian warga.
Setelah sebelumnya ditemukan ratusan ikan mati, Kamis (10/09/2026) lalu, kini air Situ Cangkring terlihat berubah warna menjadi cokelat dan diduga tercampur material berminyak, lalu muncul busa berwarna putih.

Pantauan di lokasi, Senin (14/09/2026), masih terlihat sisa ikan yang mati. Di salah satu ujung Situ Cangkring juga tampak material berwarna hitam seperti minyak yang menempel di permukaan air. Bau menyengat turut tercium di sekitar lokasi.
Salah seorang warga, Agus Salim, mengatakan kondisi tersebut diduga berkaitan dengan limbah yang masuk ke kawasan Situ Cangkring. Namun, ia menegaskan sumber maupun jenis material tersebut belum dapat dipastikan karena masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium yang dilakukan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangerang.
“Sekarang belum ada kepastian, masih dites. Katanya seminggu baru ada hasil pemeriksaan,” kata Agus.
Menurutnya, saat kejadian sebelumnya permukaan air terlihat berminyak. Material tersebut bahkan terasa ketika air tersentuh tangan. Ia pun menduga aliran tersebut berasal dari kawasan industri di sekitar Situ Cangkring.
“Yang jelas berminyak. Kalau nempel di air, kita juga bingung itu oli atau minyak,” ujarnya.
Ia menyebut terdapat sejumlah saluran atau parit di sekitar situ yang diduga terhubung dengan kawasan industri. Ia menduga aliran dari area pabrik dapat masuk ke Situ Cangkring melalui saluran tersebut.
Meski demikian, Agus mengaku tidak mengetahui secara pasti perusahaan mana yang menjadi sumber dugaan pencemaran. Menurutnya, terdapat cukup banyak pabrik di sekitar kawasan tersebut dan masing-masing memiliki saluran.
Selain material berminyak, perubahan warna air juga menjadi perhatian warga. Ia mengatakan kondisi normal air Situ Cangkring cenderung berwarna biru atau kehijauan. Namun, saat ditemui, air masih tampak cokelat.
“Biasanya biru, hijau. Ini masih cokelat,” tuturnya.
Kondisi ikan juga masih menjadi perhatian. Agus mengatakan sejumlah ikan masih ditemukan mengapung dan beberapa di antaranya diduga mati, meski jumlahnya tidak sebanyak kejadian sebelumnya.
“Yang di dasar yang kena. Dia nyedot itu, racunnya. Nggak kuat,” katanya.
Ia menambahkan, petugas dari dinas terkait telah beberapa kali datang ke lokasi untuk mengambil sampel dan memeriksa kondisi air Situ Cangkring.
“Dicek kadar airnya. Hasil akhirnya mereka yang dinas lebih tahu,” ujarnya.
Kondisi tersebut turut berdampak terhadap warga yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas di sekitar situ. Agus, yang sehari-hari membuka warung, mengaku pendapatannya ikut menurun karena aktivitas memancing warga berkurang.
“Jadi nggak ada yang mancing, nggak ada pemasukan,” ucapnya.
Lebih lanjut, ia mengaku telah sekitar dua tahun tinggal sekaligus membuka warung di kawasan tersebut. Ia merupakan warga asli.
Sebelumnya, Pemerintah Kota Tangerang melalui DLH telah menindaklanjuti laporan warga terkait ikan mati dan perubahan kondisi air di Situ Cangkring dengan melakukan verifikasi lapangan serta pengambilan sampel untuk uji laboratorium.
Hingga kini, penyebab pasti perubahan warna air, kematian ikan, maupun material berminyak yang dikeluhkan warga belum dapat dipastikan. Dugaan keterkaitan dengan aktivitas industri di sekitar situ juga masih memerlukan pembuktian melalui hasil pemeriksaan laboratorium.(Qor)











