TangerangKini, Kota Tangerang – Gelaran The Ultimate 10K yang berlangsung di Kota Tangerang, Minggu (13/09/2026) pagi, mendapat sorotan dari Forum Aktivis Tangerang (Fortang). Pasalnya, sejumlah ruas jalan yang menjadi lintasan peserta ditutup sejak dini hari dan dinilai menghambat aktivitas masyarakat.
Pantauan di lapangan sekitar pukul 04.30 WIB, The Ultimate 10K dimulai dari kawasan Taman Elektrik, Puspem Kota Tangerang. Sejumlah ruas jalan ditutup untuk kendaraan dan dialihkan sebagai lintasan peserta, mulai dari kawasan Puspem, Taman Makam Pahlawan (TMP) Taruna, Jalan Kali Pasir, Jalan Benteng Makassar, Jalan A. Damyati, Jalan MT Haryono hingga Jalan Kisamaun.

Penutupan tersebut membuat sebagian pengguna jalan harus mencari akses alternatif. Di beberapa titik, arus kendaraan juga sempat padat dan membuat pengendara kebingungan.
Dalam pelaksanaan kegiatan tersebut, pengaturan arus lalu lintas melibatkan petugas Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Tangerang bersama jajaran Lantas Polres Metro Tangerang Kota yang melakukan pengamanan dan pengaturan di sejumlah titik terdampak penutupan jalan.
Ketua Fortang Tri Syahrizal menegaskan, pihaknya tidak mempersoalkan kegiatan olahraga maupun penyelenggaraan The Ultimate 10K. Persoalannya, kata dia, adalah bagaimana event tersebut digelar tanpa mengabaikan kepentingan masyarakat yang menggunakan jalan.
“Kondusif dari mana? Kalau masyarakat sampai mengeluhkan aksesnya terganggu, ruas jalan ditutup, kemudian terjadi kepadatan dan kebingungan di lapangan, jangan buru-buru mengatakan kondisi kondusif,” ujarnya.
Ia mengatakan, keberhasilan sebuah event tidak semestinya hanya dilihat dari kelancaran acara dan antusiasme peserta.
“Jalan itu bukan hanya milik peserta event, tetapi juga digunakan warga untuk bekerja, beraktivitas, mengantar keluarga, ke rumah sakit, atau menjalankan kebutuhan lainnya,” katanya.
Ia pun mempertanyakan kesiapan jalur alternatif ketika sejumlah ruas utama ditutup, Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Tangerang dan Lantas Polres Metro Tangerang Kota tidak cukup hanya memastikan arus di sekitar lokasi kegiatan berjalan tertib. Namun, pengaturan lalu lintas juga harus mempertimbangkan dampak penutupan jalan terhadap warga yang tidak mengikuti kegiatan.
“Kalau memang jalan harus ditutup untuk kepentingan kegiatan, pertanyaannya sederhana: jalur alternatifnya bagaimana? Apakah masyarakat sudah diberikan informasi yang jelas? Apakah pengalihan arusnya benar-benar mampu menampung kendaraan yang dialihkan?” tegasnya.
Menurutnya, penggunaan jalan untuk kegiatan di luar fungsi lalu lintas juga memiliki ketentuan. Ia merujuk UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, khususnya Pasal 128 ayat (1) yang mengatur penggunaan jalan yang mengakibatkan penutupan jalan dapat diizinkan apabila tersedia jalan alternatif.
Sementara ayat (2) mengatur pengalihan arus ke jalan alternatif harus dinyatakan dengan rambu lalu lintas sementara.
“Jangan melihatnya hanya sebagai persoalan ada izin atau tidak ada izin. Yang lebih penting adalah bagaimana hak pengguna jalan tetap dilindungi. Kalau jalan ditutup, harus jelas alternatifnya, jelas pengalihannya, jelas petugasnya, dan jelas informasi kepada masyarakat,” ujarnya.
Fortang menilai dampak terhadap warga harus menjadi bagian penting dalam evaluasi pelaksanaan event. Sebab, kegiatan yang hanya berlangsung beberapa jam tidak boleh membuat masyarakat luas menanggung gangguan akses.
“Event boleh sukses, tetapi jangan sampai ukuran sukses itu hanya dilihat dari ramainya peserta dan meriahnya acara. Ukuran sukses juga harus dilihat dari apakah masyarakat sekitar tetap merasa aman, nyaman, dan tidak dirugikan,” katanya.
Ia juga meminta keluhan warga tidak dianggap sebagai gangguan terhadap penyelenggaraan acara.
“Kalau ada warga yang mengeluh, jangan dianggap sebagai gangguan terhadap acara. Itu justru masukan,” katanya.
Masih kata Tri, Ia berharap persoalan serupa tidak kembali terjadi ketika event berskala besar digelar di Kota Tangerang.
“Pemerintah harus memastikan ruang publik tetap bisa digunakan secara adil. Jangan hanya ramai di acara, tetapi gaduh di jalan,” pungkasnya.
Sementara itu, Wali Kota Tangerang Sachrudin memiliki penilaian berbeda. Ia menyebut pelaksanaan The Ultimate 10K berjalan baik, tertib dan mendapat dukungan masyarakat.
“The Ultimate 10K ini berjalan dengan baik, tertib. Kita lihat sangat kondusif, rapi, tidak ada teriakan-teriakan. Dukungan masyarakat cukup bagus,” ujar Sachrudin.
Ia uga menilai kondisi selama kegiatan berlangsung lebih baik dibandingkan pelaksanaan Tangerang 10K sebelumnya. Salah satunya terlihat dari berkurangnya penggunaan klakson kendaraan.
“Klakson juga sudah berkurang, baik dibandingkan Tangerang 10K yang pertama,” katanya.
Meski demikian, pantauan di lapangan menunjukkan adanya keluhan masyarakat terkait penutupan sejumlah ruas jalan yang menjadi lintasan peserta.
Hingga berita ini ditulis, Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Kota Tangerang, Achmad Suhaely dan Kepala Satuan Lantas Polres Metro Tangerang Kota, AKBP Nopta Histaris Suzan, belum memberikan tanggapan saat dikonfirmasi mengenai kondisi lalu lintas, pengalihan arus, serta penutupan sejumlah ruas jalan dalam pelaksanaan The Ultimate 10K. (Qor)












