TangerangKini.com, Kota Tangerang – Setiap Idul Fitri tiba, ada satu tradisi yang tidak pernah absen bahkan lebih konsisten dari jadwal makan, pertanyaan kapan nikah justru lebih sering terdengar.
Anehnya, pertanyaan ini seperti punya radar sendiri, tidak peduli kamu lagi sibuk makan opor, lagi ambil ketupat, atau bahkan lagi pura-pura ke dapur tetap saja kena.
“Kamu sekarang gimana? kapan nikah?”
Seakan hidup hanyalah jalur cepat, lahir, sekolah, kerja, menikah. Selesai. Tidak ada ruang untuk kesiapan, apalagi kesadaran. Kita jawab, “Doain aja.” Tersenyum tipis.
Setiap tahun, lebih dari 400 ribu rumah tangga di Indonesia berakhir di meja perceraian. Padahal, menikah itu mudah. Yang tidak mudah adalah hidup setelahnya dan tidak semua orang siap. Ada satu narasi lama yang terus diulang-ulang,
“Menikah itu menambah rezeki.”
Secara iman, rezeki itu datang dari Allah. Tapi masalahnya, narasi ini sering dipahami setengah-setengah. Kalau menikah otomatis memperbaiki ekonomi, lalu kenapa banyak rumah tangga justru runtuh karena ekonomi? Kenapa banyak pasangan bertengkar karena uang? Kenapa banyak yang berakhir di perceraian karena tidak sanggup menanggung beban hidup bersama?
Di sini kita perlu jujur, rezeki memang dijamin, tapi usaha tidak pernah dihapus. Menikah bukan mesin pencetak uang melainkan tanggung jawab baru yang justru menuntut kesiapan lebih besar. Kalau sebelum menikah saja hidup masih pontang-panting, jangan berharap setelah menikah tiba-tiba jadi stabil. Yang ada beban bertambah.
Hal yang sering dilupakan, menikah itu bukan proyek jangka pendek. Ini bukan kontrak satu atau dua bulan. Menikah adalah keputusan seumur hidup. Lucunya, banyak orang mengambil keputusan ini hanya karena tekanan sesaat.
“Takut ditanya. Takut dibandingkan. Takut dianggap tertinggal,”
Padahal yang ditakutkan itu cuma omongan, tapi yang dipertaruhkan adalah seluruh hidup. Di sisi lain, kita juga perlu melihat pernikahan dari sudut yang lebih dalam bukan sekadar sosial, tapi spiritual.
Pernikahan adalah bagian dari takdir azwaj (Pasangan), Allah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan, bukan hanya manusia, tapi juga alam, peristiwa, bahkan nilai-nilai kehidupan.
Artinya, pertemuan dua insan bukan sekadar kebetulan atau tuntutan sosial, tapi bagian dari ketetapan. Di sana ada Rahmah, kasih sayang yang Allah jamin. Lalu ada mawaddah, getaran cinta yang membuat dua orang memilih untuk bersama.
Banyak yang salah mengartikan, mereka kira setelah ada cinta, semuanya selesai, justru setelah itu semuanya dimulai. Lebih lanjut, tujuan pernikahan adalah sakinah dan ini yang sering disalahartikan, hal itu bukan sesuatu yang otomatis hadir setelah akad melainkan hasil perjuangan.
Al-Qur’an menggambarkannya dengan sifat dinamis, ketenangan itu dicapai, diusahakan, diperjuangkan, seperti laut yang kadang tenang, kadang bergelombang. Tugas suami istri bukan menikmati sakinah, tapi menciptakan sakinah.
Lalu, agar tidak kehilangan arah, pernikahan harus punya pijakan, salah satunya dengan memahami nilai-nilai dalam Surah Ar-Rum ayat 20–25 secara utuh. Selama ini, orang hanya fokus pada satu ayat yang sering dibaca saat akad, padahal ada rangkaian makna yang lebih luas tentang asal-usul manusia, tentang kehidupan di antara langit dan bumi, tentang pergantian siang dan malam, semua itu mengingatkan satu hal, identitas kita bukan sekadar nama, status, atau peran sosial.
Ketika konflik datang dan itu pasti yang perlu diperbaiki bukan hanya hubungan, tapi cara kita memahami diri sebagai manusia. Kembali ke pertanyaan awal, kenapa banyak orang tetap memaksakan menikah?
Jawabannya sederhana, tapi pahit, karena tekanan sosial lebih kuat daripada kesadaran diri dan di titik ini ada satu plot twist yang mungkin tidak nyaman untuk diakui, banyak orang menikah bukan karena siap hidup bersama mengejar kebahagiaan, melainkan karena tidak siap hidup sendiri di bawah penilaian orang lain. Menanggapi hal tersebut, ketika pertanyaan itu berhenti, realita mulai berbicara lebih keras.
Jadi, jika hari ini kamu masih sendiri, tidak perlu buru-buru merasa tertinggal, bisa jadi justru kamu sedang menjaga dirimu dari keputusan besar yang belum waktunya diambil.
Tidak semua yang cepat itu tepat, dan tidak semua yang ramai diikuti harus dijalani. Apa pun yang terasa hilang dalam dirimu, akan kembali dalam bentuk yang lebih jujur, lebih dewasa, dan lebih kamu pahami.
Sebab pada akhirnya, yang paling menyakitkan adalah ketika kamu sudah menjalaninya lalu diam-diam menyadari, bahwa keputusan itu bukan lahir dari kesiapan untuk mencintai tetapi dari ketakutan untuk merasa sendirian. (qor)












