Beranda / Kota Tangerang / RSUD Kota Tangerang Hadirkan Layanan Ortotik dan Prostetik, Bantu Pasien Kembali Mandiri

RSUD Kota Tangerang Hadirkan Layanan Ortotik dan Prostetik, Bantu Pasien Kembali Mandiri

TangerangKini.com, Kota Tangerang – Kehilangan anggota tubuh akibat kecelakaan atau penyakit bukan lagi akhir dari harapan hidup. Melalui layanan Ortotik dan Prostetik di Instalasi Rehabilitasi Medik, RSUD Kota Tangerang membantu pasien dengan berbagai keterbatasan fisik untuk kembali beraktivitas, bekerja, hingga menjalani kehidupan secara mandiri.

Layanan ini menjadi salah satu upaya RSUD Kota Tangerang dalam menghadirkan pelayanan kesehatan yang tidak hanya berfokus pada penyembuhan penyakit, tetapi juga mengembalikan fungsi tubuh dan kualitas hidup pasien.

Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi (KFR) RSUD Kota Tangerang, dr. Asri, Sp.KFR, menjelaskan bahwa masih banyak masyarakat yang belum memahami perbedaan antara ortotik dan prostetik.

“Ortotik adalah alat bantu tubuh yang berfungsi menopang, meluruskan, atau mengurangi nyeri. Sedangkan prostetik merupakan alat pengganti anggota tubuh yang hilang,” ujarnya, Sabtu (20/06/2026).

Ia menjelaskan, alat ortotik biasanya digunakan oleh pasien stroke, skoliosis, cedera ligamen, osteoartritis, hingga kelainan bentuk kaki maupun tulang belakang. Beberapa contoh alat ortotik di antaranya korset penyangga tulang belakang, insole, knee brace, hingga Ankle Foot Orthosis (AFO) yang membantu pasien dengan gangguan berjalan.

Sementara itu, prostetik digunakan untuk menggantikan bagian tubuh yang hilang akibat amputasi karena kecelakaan, komplikasi diabetes, tumor, maupun kelainan bawaan lahir.

“Contohnya adalah kaki palsu dan tangan palsu. Tujuan utamanya untuk membantu pasien kembali beraktivitas dan mandiri,” katanya.

Menurutnya, layanan Rehabilitasi Medik memiliki peran penting dalam proses pemulihan pasien setelah mengalami cedera, operasi, maupun penyakit tertentu yang menyebabkan keterbatasan fungsi tubuh.

“Rehabilitasi Medik adalah layanan medis yang fokus memulihkan gerak dan fungsi tubuh yang terbatas akibat penyakit, operasi, atau cedera,” jelasnya.

Melalui program rehabilitasi yang melibatkan dokter KFR, fisioterapis, teknisi ortotik prostetik, okupasi terapis, hingga tenaga kesehatan lainnya, pasien didampingi secara menyeluruh untuk mencapai kemampuan terbaik sesuai kondisinya.

“Sakit atau cedera membuat mesin tubuh menjadi macet. Rehab Medik adalah bengkel sekaligus pelatih yang membantu mesin itu berjalan kembali,” ungkapnya.

Bagi pasien amputasi, proses mendapatkan prostesis di RSUD Kota Tangerang dimulai dari konsultasi dan evaluasi kondisi pasien oleh dokter rehabilitasi medik. Setelah itu dilakukan pengukuran dan pencetakan bagian tubuh oleh teknisi ortotik prostetik agar alat yang dibuat sesuai dengan bentuk tubuh pasien.

Baca Juga:  Lima Bulan Berlalu, Kasus Kematian Remon Masih Jalan di Tempat

Tahapan berikutnya adalah uji coba atau trial socket untuk memastikan kenyamanan penggunaan. Jika terdapat titik yang menimbulkan nyeri atau tekanan berlebih, alat akan dimodifikasi sebelum dipasang secara permanen.

Setelah prostesis terpasang, pasien akan menjalani latihan bersama fisioterapis untuk belajar berjalan, menjaga keseimbangan, naik tangga, hingga melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa setiap alat prostetik dibuat secara personal dan tidak memiliki ukuran baku seperti pakaian.

“Tidak ada ukuran S, M, atau L untuk prostesis. Semua disesuaikan dengan bentuk sisa anggota gerak, berat badan, usia, aktivitas sehari-hari, hingga tujuan hidup pasien. Kebutuhan seorang tukang bangunan tentu berbeda dengan ibu rumah tangga atau atlet,” terangnya.

Dengan dukungan alat yang tepat dan latihan yang berkelanjutan, banyak pasien amputasi yang mampu kembali menjalani kehidupan produktif.

“Banyak penyandang amputasi yang bisa berjalan, bekerja, berolahraga, bahkan mengendarai motor dan mobil setelah menjalani program rehabilitasi. Kuncinya adalah prostesis yang sesuai, latihan yang intensif, dan kemauan untuk beradaptasi,” ujarnya.

Di akhir keterangannya, ia mengajak masyarakat yang mengalami keterbatasan fisik untuk tidak menyerah pada keadaan. Menurutnya, kecacatan fisik bukanlah akhir dari perjalanan hidup seseorang.

“Kecacatan fisik bukan akhir dari hidup, tetapi awal dari cara baru untuk hidup. Dengan Rehabilitasi Medik dan alat bantu yang tepat, banyak pasien kami yang kembali bekerja, sekolah, menikah, bahkan menjadi atlet paralimpiade,” tuturnya.

Ia pun berpesan agar pasien tetap fokus pada tujuan-tujuan kecil yang dapat menjadi langkah awal menuju kemandirian.

“Jangan menyerah di fase awal. Fase nyeri, jatuh, dan frustrasi itu normal. Datanglah ke dokter Rehab Medik dan ceritakan target Anda. Dari target kecil seperti ingin salat sendiri atau menggendong cucu, kita bangun kemandirian yang besar. Anda tidak sendiri. Terima, latih, dan adaptasi,” pungkasnya. (Adv)

Tag:
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments