Beranda / Kota Tangerang / Si Betok” : Penggerak Bank Sampah

Si Betok” : Penggerak Bank Sampah

TangerangKini, Kota Tangerang – Jalanan kecil di K.H. Hasyim Asyari Gg Kijan Ridi, RT 08/05, Kelurahan Neroktog, Kecamatan Pinang, harapan baru bagi bumi dan masyarakat tumbuh pelan-pelan namun pasti. Bukan dari kantor pemerintahan atau korporasi besar, Sabtu (10/05/2025).

Harapan itu datang dari seorang pemuda, penggerak bank sampah, Ilham (24), Dijuluki sebagai Si Betog (si anak kebersihan Neroktog), ia tak tersinggung. Justru, panggilan itu ia ubah menjadi identitas perjuangannya.

“Awalnya cuma dari keresahan. Lihat sampah berserakan, bau, dan bikin banjir. Tapi saya yakin, kalau kita peduli, sampah bisa jadi berkah,” ujar Ilham sambil tersenyum.

Bank sampah ini sejatinya sudah berdiri sejak 2016, didirikan oleh pamannya dan inisiatif warga. Namun sempat vakum pada 2019, hingga akhirnya Ilham memutuskan untuk melanjutkannya di 2022. Dengan fasilitas terbatas dan tenaga sukarela, Ilham bekerja nyaris sendirian.

“Siapa aja yang mau bantu, ayo. Kalau dapet uang, pasti kita bagi. Meski cuma sedikit, tapi itu rezeki bareng-bareng,” ucapnya pelan.

Meski ruang lingkupnya hanya sebatas RW, Ilham tak pernah pilih pilih jika ada kawasan dari luar yang kotor dan warga yang meminta bantuan. Sampah rumah tangga ia pilah, dibersihkan, lalu pemanfaatan sampah.

“kalau yang menjual Botol kardus sekilo itu kita hargai 1.500, kalau bersih 3000.” katanya.

Tak hanya mengabdi pada lingkungan, tapi juga pada pendidikannya. Ia tercatat sebagai mahasiswa di STISNU Nusantara, Kota Tangerang. Di tengah kesibukannya, ia tetap kuliah, walau sering harus berbagi waktu dan tenaga.

Baca Juga:  Rayakan HUT ke-17, Tidar Kota Tangerang Gelar Sunatan Massal dan Pemeriksaan Kesehatan Gratis untuk 145 Pelajar

“Biasanya pagi sebelum kuliah, saya keliling RW dulu. Bersihin area, cari botol, kardus. Habis itu baru ke kampus,” ungkapnya, suara lelah tapi penuh tekad.

Menggerakkan bank sampah bukan pekerjaan yang mudah, fasilitas seadanya, minim Sumber Daya Manusia (SDM), dan tidak adanya upah tetap menjadi tantangan berat, namun bagi Ilham, ini bukan tentang uang, ini tentang kepedulian. Perlu diketahui, bantuan dari Dinas Lingkungan Hidup, memberikan timbangan, gerobak, dan uang Rp500 ribu selama tiga bulan sekali.

“Jauh sekali dari kata cukup untuk operasional,” keluhnya lirih.

Lebih dari itu, ia juga menyayangkan kurangnya pengawasan dan perhatian lanjutan dari pihak terkait, padahal dari bank sampah ini bisa menjadi edukasi ke pemuda untuk peduli lingkungan.

“Kalo memang kegiatan ini di tekuni, padahal bisa menjadi produk kreatif dan lain lain, “Jelasnya.

Bank Sampah ini diharapkan bisa menjadi pusat edukasi lingkungan bagi warga. Ia mengajari anak-anak memilah sampah, membuat kerajinan dari limbah, hingga menukarnya dengan kebutuhan pokok. Semua dilakukan dengan semangat, tanpa pamrih.

Meski masih muda, Ilham telah membuktikan bahwa kepedulian tak butuh jabatan atau gelar tinggi. Hanya butuh keberanian dan ketulusan untuk memulai. Ia berharap, langkah kecilnya bisa menginspirasi pemuda lain untuk ikut bergerak.

“Saya mungkin cuma anak kampung, tapi saya percaya perubahan itu bisa dimulai dari sini, perubahan kecil bisa bermanfaat buat orang banyak,”Tutupnya. (qor)

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments