Beranda / Kota Tangerang / Diduga Dipaksa, Siswa SMAN 14 Kota Tangerang Harus Berhenti Sekolah

Diduga Dipaksa, Siswa SMAN 14 Kota Tangerang Harus Berhenti Sekolah

TangerangKini.com, Kota Tangerang – Polemik dugaan pemaksaan pengunduran diri terhadap seorang siswa kelas XII Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 14 Kota Tangerang, Kecamatan Batuceper, menjadi sorotan.

Siswa berinisial DA mengaku diberhentikan secara sepihak setelah orang tuanya diminta menandatangani surat pengunduran diri tanpa penjelasan maupun bukti atas tuduhan yang dialamatkan kepadanya.

Menurutnya, persoalan bermula usai pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Saat itu ia bersama sejumlah siswa kelas XII berkumpul dengan adik kelas yang biasa nongkrong di tempatnya. Mereka juga membuat grup WhatsApp bernama “Bad Boys” sebagai wadah komunikasi antarsiswa lintas angkatan. Namun saat berkumpul, mereka kedapatan merokok menggunakan seragam sekolah.

“Habis MPLS kami kumpul sama adik kelas. Saat itu ketahuan merokok pakai seragam dan kami langsung mengakui kesalahan,” ujar DA saat ditemui, Rabu (05/08/2026).

Sehari setelah kejadian tersebut, sekitar 28 siswa kelas XII yang diduga terlibat dimintai keterangan oleh guru Bimbingan Konseling (BK). Orang tua mereka juga diminta datang ke sekolah. Dalam kesempatan itu, menurut DA, pembahasan hanya berkaitan dengan pelanggaran merokok di lingkungan sekolah dan para siswa diberikan pembinaan.

Namun, berbeda dengan teman-temannya yang dianggap telah selesai menjalani pembinaan, DA mengaku kembali diminta menghadap pada hari berikutnya. Kali ini, pembahasannya bukan lagi soal merokok, melainkan muncul dugaan adanya praktik perundungan, pemalakan, hingga perpeloncoan terhadap siswa baru.

Berdasarkan kronologi yang disampaikan, pada 21 Juli dipanggil guru BK karena diduga melakukan perpeloncoan. Keesokan harinya, 22 Juli, orang tua kembali diminta hadir ke sekolah. Dalam pertemuan itu, pihak sekolah juga mempertanyakan grup WhatsApp “Bad Boys” yang beranggotakan siswa kelas X, XI, dan XII. Grup tersebut diduga memiliki unsur organisasi tertentu.

Kemudian pada 23 Juli, ia kembali menjalani pemeriksaan. Ia dimintai klarifikasi terkait dugaan perundungan, pemalakan, dan perpeloncoan terhadap adik kelas.

“Semua yang ketahuan merokok dipanggil. Tapi setelah itu hanya saya yang dipanggil lagi karena dituduh melakukan perundungan, pemalakan, dan perpeloncoan. Saat itu juga saya diberi tahu kalau sedang dirundingkan apakah akan dikeluarkan dari sekolah atau tidak,” katanya.

Puncak persoalan terjadi pada 24 Juli. Orang tuanya kembali diminta datang ke sekolah untuk bertemu dengan guru BK dan wali kelas. Pada kesempatan itu, keluarga mengaku justru diminta menandatangani surat pengunduran diri.

Baca Juga:  Polrestro Tangerang Kota Gagalkan Pengiriman Pekerja Migran Ilegal

Ia mengatakan keluarganya sempat meminta penjelasan mengenai dasar keputusan tersebut. Namun, mereka mengaku tidak memperoleh kronologi kejadian maupun bukti yang menunjukkan keterlibatan dirinya dalam dugaan tersebut.

“Orang tua saya diminta menandatangani surat pengunduran diri. Kami meminta penjelasan, tapi tidak diberikan kronologi maupun bukti atas tuduhan itu,” ujarnya.

Lebih lanjut, DA mengungkapkan saat pertemuan berlangsung terdapat aparat kepolisian dan Babinsa di lokasi. Menurutnya, sang ayah merasa tertekan setelah mendapat penyampaian dari oknum kepolisian bahwa apabila surat tersebut tidak ditandatangani saat itu juga, persoalan akan diproses ke Polsek atau dibawa ke ranah hukum.

“Ayah saya akhirnya menandatangani surat itu karena merasa tertekan. Suratnya juga tidak diberi salinan dan langsung dipegang pihak sekolah,” ungkapnya.

Selain itu, ia juaga mengaku sempat mendapat tudingan dari aparat yang mengaitkannya dengan geng motor, tawuran, hingga aksi demonstrasi. Menurutnya, tudingan tersebut tidak pernah terbukti dan tidak berkaitan dengan persoalan yang sedang dihadapi di sekolah.

Mengenai grup WhatsApp “Bad Boys”, DA membantah jika grup tersebut merupakan kelompok yang melakukan tindakan negatif. Ia menjelaskan wadah komunikasi itu hanya dibuat untuk mempererat hubungan antarsiswa sekaligus menjadi media berbagi informasi mengenai kegiatan sekolah maupun turnamen.

“Grup itu hanya untuk komunikasi dan berbagi informasi kegiatan sekolah. Anggotanya siswa kelas 10, 11, dan 12, bukan organisasi ataupun geng,” jelasnya.

Ia juga membantah adanya dugaan pemalakan terhadap siswa baru. Menurutnya, uang yang dikumpulkan saat itu merupakan hasil iuran bersama seluruh siswa yang hadir untuk membeli makanan dan minuman.

“Bukan pemalakan. Kami patungan beli es dan gorengan, lalu dimakan bersama-sama. Adik kelas juga ikut iuran dan semuanya makan bersama,” katanya.

Akibat penandatanganan surat tersebut, siswa tersebut mengaku sudah sekitar tujuh hingga delapan hari tidak mengikuti kegiatan belajar mengajar sejak 24 Juli 2026. Meski demikian, ia masih berharap dapat kembali bersekolah di SMAN 14.

“Saya hanya ingin ada kejelasan dan keadilan. Saya masih ingin tetap sekolah di SMAN 14,” ucapnya.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak SMAN 14 Kota Tangerang yang telah dikonfirmasi awak media belum memberikan tanggapan terkait dugaan pemaksaan pengunduran diri maupun tuduhan yang disampaikan oleh siswa tersebut. (Qor)

Tag:
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments