Ini Ungkapan Kaum Marginal untuk 32 Tahun Kota Tangerang.
Tangerangkini.com, Tangerang – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Tangerang yang ke-32 pada Jumat (28/2/2025), dirayakan dengan meriah, namun di samping gapura pemkot, pinggir Jalan Sudirman, Komplek Perkantoran Kota Tangerang, ada cerita yang jarang didengar dari kisah para pemulung.
Sering beristirahat di wilayah pemerintahan kota Tangerang, khususnya dihari Jumat, Seorang pemulung yang enggan menyebutkan namanya, berbagi kisah di tengah perayaan hari besar Kota Tangerang.
“Saya biasanya ngaso disini, saya juga tahu kalau hari ini ada HUT Kota Tangerang, tapi kalau saya mau lihat kesana, saya takut. Takut mengganggu, kami kan nyari barang rongsok buat makan,” ujarnya dengan nada sedih.

Ia menceritakan kehidupan sehari-harinya yang penuh dengan tantangan. Biasanya diberi makanan oleh orang yang melintas, tapi ia mempunyai perinsip bahwa iya bekerja bukan mengemis.
“kita juga enggak berharap banyak, kalau orang ngasih ya kita terima. Kami nggak minta-minta kok, kamikan kerja, gak tau kenapa sering di usir, apa karna kita kumuh,” tuturnya dengan kecewa.
Menurutnya, kehidupan di Kota Tangerang semakin sulit bagi mereka yang tidak punya pekerjaan tetap.
“Tangerang sekarang buat kami, sudah nggak ada lowongan kerja lagi, apalagi yang sudah kepala empat. Mau kerja apa? Kalau nggak punya ijazah, susah cari kerja,” ujarnya penuh kekhawatiran.
Di tengah meriahnya perayaan HUT Kota Tangerang yang digelar dengan penuh antusias, pemulung ini merasa tidak ada yang memedulikan mereka dan juga ia tidak terdaftar dibantuan manapun.
“Untuk HUT Kota ini kami nggak dapet apa-apa. kalo dulu biasanya masih ada yang keliling ngasih ngasih. Blom pernah juga kita dapet sembako atau bantuan gitu Kami juga nggak terdata di pemda,” ungkapnya.
Bagi mereka yang hidup di jalanan, hari-hari terasa berat dan bingung untuk mengungkapkan harapannya di HUT Kota Tangerang. ” Bingung untuk harapan di HUT kota tangerang ini, yaaa yang penting Tangerang maju bisa bagi-bagi bantuan buat orang jalanan juga,” harapnya, sambil tersenyum tipis.
Kondisi ini tidak hanya dirasakan oleh satu orang, namun banyak pemulung yang senasib.
Salah seorang suami istri, Sumi dan fendi, yang setiap harinya memulung juga menceritakan kesehariannya dengan kondisi suaminya yang menarik gerobak dan isrinya yang dorong grobak, dengan menggunakan tongkat.
Ia juga bingung mau bekerja apa selain mulung karna kondisinya yang sudah tua dan sakit.”Saya dan suami sudah kena struk, tapi tetap harus kerja. Mau gimana lagi? Kami hidup susah, apalagi kalau sudah tua seperti saya,” keluhnya.
Ia juga mengungkapkan pengalaman buruknya ketika ditangkap Satuan Polisi Pamong Peraja (Satpol PP) dan ditangkap selama empat hari. “Saya itu pernah dikandangin selama 4 hari, kaya di sell, disana nangiss saya, sayakan bukan ngemis apalagi maling.”Jelasnya.
Tak hanya itu, para pemulung ini juga merasa terpinggirkan oleh sistem pengelolaan sampah. “Tukang sampah kan sudah digaji, tapi kami yang cuma mengandalkan barang rongsokan, sering kali malah kehilangan rezeki kami karena diambil oleh mobil sampah,” ungkapnya dengan nada kecewa.
Katanya yang mulung ini kebanyakan orang yang perantau ke Kota Tangerang dan juga sudah lama menetap di Tangerang, sebenarnya Keinginan mereka, diberikan tempat untuk berlindung dan diberi kesempatan untuk bekerja dengan layak.
” Tidurkan kami dijalan, Kami cuma butuh tempat untuk tidur, untuk berlindung dari hujan. Kalau memang mulung itu salah, beri kami pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan kami,” pintanya.
Ini menjadi cermin dari ketimpangan sosial yang masih ada di tengah kota Tangerang yang berkembang pesat. Di tengah perayaan besar, tidak sedikit yang terabaikan. Mereka yang mencari nafkah dengan cara yang tidak terduga, berjuang demi kelangsungan hidup merasa, bahwa pemerintah seharusnya lebih peduli terhadap nasib mereka.
Harapnya sederhana. “Jangan terlalu mengejar-ngejar kami karna kami mulung, kasihan dengan nasib kami. Kami juga manusia, kami butuh hidup yang layakkan.” (Qor/Red)


